Apa Itu Quarter Life Crisis?
Quarter life crisis (QLC) adalah fase transisi dari remaja menuju dewasa awal, umumnya terjadi pada usia 18–25 tahun. Pada fase ini, banyak anak muda mulai mempertanyakan arah hidup, karier, hubungan, dan tujuan pribadi. Pertanyaan seperti “Apakah aku sudah memilih jalur yang tepat?” atau “Apakah aku cukup sukses dibanding teman seumuranku?” menjadi hal yang sering muncul.
QLC tidak hanya terjadi karena ketidakpastian eksternal, tetapi juga tekanan internal, seperti perasaan gagal atau cemas menghadapi masa depan.
Mengapa Quarter Life Crisis Marak di Indonesia?
-
Tekanan Sosial dan Keluarga
Banyak anak muda merasa harus “cepat berhasil” untuk memenuhi ekspektasi keluarga dan masyarakat. Hal ini membuat mereka terburu-buru menentukan pilihan hidup. -
Ketidakpastian Karier
Persaingan kerja yang ketat, peluang terbatas, dan tuntutan keterampilan yang terus berkembang membuat anak muda ragu dengan pilihan karier mereka. -
Perbandingan Sosial di Media Sosial
Media sosial menampilkan versi “sempurna” kehidupan teman atau influencer. Perbandingan ini sering menimbulkan rasa kurang dan frustrasi. -
Kurangnya Panduan Hidup yang Jelas
Minimnya mentor atau pengalaman praktis membuat anak muda sering bingung menentukan langkah hidup yang tepat.
Dampak Quarter Life Crisis
-
Psikologis: Rasa cemas, stres, overthinking, dan depresi ringan.
-
Sosial: Menarik diri dari lingkungan karena merasa gagal atau kurang berprestasi.
-
Karier dan Keputusan Hidup: Bisa terburu-buru memilih jalur yang salah karena ingin cepat berhasil.
Cara Bijak Menghadapinya
-
Self-Reflection: Tetapkan tujuan jangka pendek dan panjang, fokus pada perkembangan diri sendiri.
-
Mentorship: Cari mentor atau orang berpengalaman yang bisa memberi panduan dan perspektif.
-
Mindfulness dan Kesehatan Mental: Kelola stres melalui meditasi, olahraga, atau konseling profesional.
-
Batasi Perbandingan Sosial: Sadari bahwa media sosial hanya menampilkan highlight, bukan keseluruhan realita.
Kesimpulan
Quarter life crisis adalah fase normal yang dialami banyak anak muda Indonesia. Dengan kesadaran, panduan yang tepat, dan pengelolaan mental yang baik, QLC bisa menjadi kesempatan untuk introspeksi, perencanaan hidup yang matang, dan pengembangan diri.
Penulis : Bintang Amri Putra






